From Mr.Simple to Walkin’

August 27, 2011 § 7 Comments

Tittle: From Mr.Simple to Walkin’

Author: fardinfah / atau mulai sekarang akan berganti jadi petalsparks (untuk sementara ke syoshidae)

Rating: PG-13

Pairings: SunSun dan 2 pairing kejutan lain… ;)

Genre: AU, angst, fluff!

Disclaimer: Mereka bukan milik saya u_u sedihnya….

Warning: Super generation pairings. haters to the left yo!

a/n1 : Kado super telat buat rena (renanism / aegyoness_)!!! maaf ya rena waktu itu kelewatan ga ngucapin udah gitu telat lagi kadonya… semoga suka deh huhu.

a/n2 : Halo aku kembali setelah lama ga nulis fanfic n__n /gampar. Belum bisa nerusin Pieces of Two Hearts A_A kena writerblock huhuhu. btw enjoy fic ini dulu ya, fanfic SunSun pertama yang aku buat. mohon masukan, saran, kritik, (pujian juga boleh) hehe

Mr.Simple

Kau pertama kali bertemu dengannya saat umurmu 10 tahun di sebuah acara keluarga besar. Seperti, semua orang bermarga Lee berkumpul dalam satu tempat yang sama. Ini memang sudah seperti acara tahunan yang biasa kau lalui dan kau lupakan begitu saja setelahnya. Kau mengira, kau hanya perlu memasang earphone dan mendengarkan musik kesukaanmu—mengeraskan volumenya semaksimal mungkin, membatin dalam hati semoga acara berkumpulnya keluarga ini lebih cepat selesai sehingga kau bisa kembali ke kamar dan tenggelam dalam duniamu sendiri.

Tapi kau melihatnya. Kau melihat sosok asing itu—kau tak pernah melihatnya di acara yang sama tahun lalu, atau tahun-tahun yang sebelumnya. Kau sangat yakin kalau saat itulah kali pertama kau melihatnya.

Kau menyolek pelan lengan ibumu, berusaha mendapatkan perhatian beliau,

“Ada apa, sayang?”

“Siapa dia, bu?”, tunjukmu pada sosok itu

“Ah, anak laki-laki manis itu?”

Kau mengernyitkan dahi, merasa kurang nyaman dengan apa yang ibumu bilang soal sosok itu, “Hmm, iya”,tapi kau rasa kata itulah yang mendekati kesan pertama setiap orang terhadap anak laki-laki itu,

“Wajar saja sih kau tidak pernah melihatnya sebelumnya. Anak itu lahir di London dan baru sekarang kembali ke Korea. Namanya Lee Sungmin”

Kau mengangguk, sebuah bahasa tubuh yang menandakan kau menangkap apa yang Ibumu katakan.

Rasa penasaran yang besar membuatmu tanpa sadar berjalan menghampirinya. Kau mengecilkan suara ipod-mu, karena entah kenapa kau yakin akan memulai percakapan dengannya.

Dan, benar saja,

“Hai”, sapamu. Lee Sungmin yang sedang menyantap salah satu hidangan istimewa di acara itu–sepotong blackforest menoleh ke arahmu, “Aku baru pertama kali melihatmu. Aku Lee Sunkyu. Tapi kau bias memanggilku Sunny”, kau ulurkan tanganmu dan tersenyum semanis mungkin padanya. Bagaimanapun, saat berkenalan dengan teman baru, kita harus bersikap seramah mungkin kan? Untung kau ingat pesan bu guru di sekolah…

Sungmin meletakkan piring blackforestnya di meja hidangan, disambutnya uluran tanganmu sambil berkata,

“Hai, uhm… a-aku Lee Sungmin—I’m very pleased to meet you,Sunny-sshi. By the way, I’m not good in speaking Korean yet, I’m sorry?”,Sungmin membalas senyummu lebar dan kau pun melihat coklat yang menempel di gigi depannya dengan sangat jelas

Walau kau tak mengerti apa yang anak—laki-laki—dengan—coklat—di gigi—itu katakan dalam bahasa inggris, kau tertawa terbahak sambil menunjuk giginya. Sungmin yang terlambat menyadari langsung salah tingkah, malu dan dengan panik menutupi mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Melihat hal itu, kau makin tertawa hingga terjongkok-jongkok,

“ummff sorrhee”, ucapnya dari balik tangan. Jelas sekali kau tidak menangkap apa yang ia coba ucapkan.

Itulah bagaimana pertemuan pertamamu dengannya—dengan Lee Sungmin. Anak laki-laki simple yang manis. Yang membuat pikiranmu terbang kemana-mana. Karena sejak saat itu juga bagimu, anak laki-laki itu adalah…

…Mr.Simple blow your mind~

Good Friends

Saat itu umurmu 11 tahun, dan Sungmin serta keluarganya pindah rumah ke dekat rumahmu. Kini rumahmu dan rumahnya tak lagi jauh. Hanya berjarak beberapa blok saja rumahnya dari rumahmu—kau bahkan bisa menjangkaunya dengan hanya berjalan kaki. Kau dengan iseng bertanya mengapa ia pindah rumah ia menjawab dengan santai,

“agar aku bisa ke rumahmu setiap hari, kau tahu? Dan kurasa tinggal di apartemen gak asik. I was very lonely”

Kau tidak tahu mengapa wajahmu memanas sedikit saat Sungmin mengatakan secara tidak langsung bahwa ia ingin agar bisa lebih mudah menjangkau tempatmu—hei, dengan kata lain ‘kan, dia selalu ingin bertemu denganmu, benar kan? Terlebih saat kau mendengar Sungmin berbicara dalam bahasa korea dengan lumayan lancar (Kau tahu Sungmin-oppa mu sangat cepat dalam belajar padahal ia hanya baru serius mempelajari bahasa korea selama kurang lebih 5 bulan) walau terkadang ia masih menyelipkan beberapa kata dalam bahasa inggris—tapi tetap saja, pokoknya Sungmin berbicara bahasa korea dengan seksi sekali—itu menurutmu.

“Eh, oppa! Kau bisa tidak mengajariku bermain gitar?”, tanyamu yang saat itu sedang duduk santai di rerumputan halaman belakang rumah, begitu pun dia yang juga sedang membaca buku berjudul “Rahasia Super Boyband Super Junior”. Pertanyaanmu bukan tiba-tiba sih, kau memang sudah lama ingin memintanya untuk mengajarimu. Hanya kau selalu lupa setiap kali bertemu dengannya. Jadi, berhubung sebelum Sungmin ke rumahmu hari ini kau sedang menonton penampilan Jieun-eonni meng-cover lagu Girls’ Generation—Gee dalam versi akustik, kau langsung teringat dengan keinginanmu itu,

“wah serius nih?”, tanyanya memastikan seraya menelungkupkan buku, diangkatnya kedua alisnya pertanda ia terkejut, kau mengangguk antusias, “Hmm… mau mulai kapan?”

Kau tersenyum lebar lalu mendekat ke arahnya, “Sebaiknya kapan ya, oppa? Aku sih terserah oppa saja”

Kau melihatnya berdecak lalu tersenyum lembut, diacak-acaknya rambutmu pelan. Sebentar kau terpejam, merasakan bagaimana rasanya jemarinya menyentuh rambutmu,

“Kau memang manis sekali kalau tersenyum. Senyummu membuatku silau, Sunkyu-ah. Kau benar-benar ‘sunny’, Aku jadi ingin kau hanya menunjukkan senyum sunny-mu padaku saja”

Kau tercekat mendengar pujian  itu keluar dari mulutnya. Nafasmu sesak, jantungmu berdebar rasanya 1000000 kali lebih cepat dari biasanya, dan kau rasa bahkan tanpa cermin pun kau tahu kalau pipimu merona merah jambu.

Dan hal itu tak luput dari perhatiannya.

“You are very lovely. You’re bright, even brighter than the sun–in my eyes”

Tentu saja kau tak mengerti apa yang Sungmin oppa-mu katakan. Yang kau mengerti hanyalah saat dia—Lee Sungmin, mengambil seberkas rambutmu, mencium wangi shampoo bunga matahari yang—untungnya kau pakai tadi pagi saat mandi (rambutmu kan jadi lebih wangi, mana tau kalau dia akan mencium wangi rambutmu seperti ini ‘kan?)

“Oppa! apakah kau sedang menggodaku sekarang?”,–tanyamu yang sedang salah tingkah

Kau melihatnya tertawa geli—kesal, kau menubruknya hingga jatuh dan mengelitikinya hingga matanya mengeluarkan air mata karena kegelian.

Kau berhenti mengelitikinya sejenak, seolah teringat sesuatu.

“Kita terus seperti ini ya Sungmin oppa. Jangan pernah berpisah. Jangan lupakan aku—jangan lupakan saat seperti ini,ya? Janji ya?”, kau heran mengapa nada bicaramu mendadak serius,

Ia kembali tertawa geli—padahal kau kan tidak sedang mengelitikinya. Dicubitnya kedua pipimu gemas,

“Kau ini bicara apa? Tentu saja kita akan terus seperti ini. Good friends, got it Sunkyu-ah ?”

Matamu berbinar, tersenyum lega.

Hanya saja ketika kau berumur 11 tahun, kau belum paham benar apa itu ‘Good Friends’. Ibu guru di sekolah mengatakan padamu kalau artinya adalah ‘Teman-teman baik’, dan menurutmu—saat itu, hal itu sudah lebih dari cukup. Kau dan Sungmin oppa-mu adalah Good Friends.

…I will never forget, give me a hug, don’t ever forget me, don’t change.

Y

Semua berbeda. Semua berubah. Kau tersenyum pahit—bukannya kau tak mengetahui akan fakta bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang tidak berubah—kau tahu, tentu saja. Hanya terlambat mengakuinya.

Kau kira, hal-hal lain bisa saja berubah. Dan hidupmu masih bisa berjalan kalau hal lain berubah. Tapi dia—Lee Sungmin bukannya termasuk hal-hal lain yang kau maksud.

Tapi dia—Lee Sungmin. Dia dan hubunganmu dengannya-lah yang berubah. Sungmin oppa-mu—ah, dia bukan lagi ‘oppa’ yang hanya milikmu. Meski tak rela, kau harus tahu diri. Karena ada orang lain—selain dirimu di sampingnya sekarang.

Karena ada orang lain—selain dirimu yang memanggilnya ‘oppa’ dengan nada berbeda. Dengan nada yang biasa anak perempuan gunakan ketika bermanja dengan laki-laki lebih tua yang disuka.

Orang lain itu, adalah anak perempuan manis sebaya dirimu. Dia adalah anak yang ceria, ketika anak perempuan itu berbicara, matanya berbinar. Dan ketika anak itu tertawa, anak perempuan itu memiliki suara tawa yang—memang tidak bisa dibilang merdu, tapi akan selalu kau rindukan untuk didengar. Anak perempuan itu juga sangat lucu, ia pandai menirukan tingkah lucu—atau sebut saja ciri khas orang lain dan menambahkan efek yang agak berlebihan pada hasil tiruannya.

Itu yang Lee Sungmin deskripsikan padamu. Kau yang hanya bisa ikut tersenyum mendengarnya mendeskripsikan anak perempuan itu sebenarnya sudah menyadari kalau anak perempuan itu,

Anak perempuan yang kau ingat namanya,

“… Sunkyu-ah, kurasa aku menyukai Choi Sooyoung. Kalau aku mengenalkannya padamu dalam waktu dekat ini, kau jangan bilang-bilang dulu padanya ya!”

Choi Sooyoung. Kau harus rela membagi Lee Sungmin oppa-mu bersama dengan anak perempuan bernama Choi Sooyoung itu.

Kau yang kini sudah 16 tahun.

Kini sudah mengerti apa arti ‘Good Friends’, kini kau tau bahwa kau seharusnya tidak pernah setuju untuk menjadi ‘Good Friends’ dengannya. Kau ingin lebih. Kau ingin egois—ingin memilikinya dan ia memilikimu. Kau tidak ingin hanya sekedar ‘teman baik’.

Sekarang kau juga mengerti. Tentang rasa yang kau miliki terhadapnya. Walau terlambat, tapi rasa itu bukannya akan menghilang begitu saja kan. Rasa itu akan terus ada sampai nanti hatimu memilih yang lain—suatu hal yang tak pernah mau kau bayangkan. Bagaimana bisa kau merasakan rasa yang sama pada orang lain yang bukan dia?—bukan Lee Sungmin?

“hei, mau sampai kapan sih kau bermuram durja begini? Udahan dong, dia kan sudah ada yang punya”, seru Kim Taeyeon tak sabar. Ia sahabat baikmu, kedua setelah Lee Sungmin,–ah tidak, kini sahabat baikmu yang pertama (karena kau rasa Lee Sungmin sudah bukan terhitung sahabatmu lagi)

Kau peluk gulingmu erat. Guling yang selalu menjadi sasaran pukulanmu kalau sedang kesal.

“Siapa sih yang bermuram durja? Iya aku tahu kok tahu. Lee Sungmin punya Choi Sooyoung. Terus kenapa?”, balasmu ngotot,

“Kok terus kenapa? Gini deh, Kalau kau benar menyukainya, harusnya kau ‘kan, bahagia melihat dia bahagia”, Taeyeon merebut gulingmu paksa lalu gentian memeluk gulingmu erat, dibenamkannya wajahnya ke guling itu sejenak, menghirup aroma guling itu dan dengan segera dilemparkannya kembali guling itu ke arahmu,”Kau apakan saja sih guling itu? Bau banget ih”

Kau memutar bola matamu, “terserah deh guling ini bakal aku cuci kalau Sungmin oppa putus dengan Sooyoung!”, ujarmu asal,

“Ih jahat banget jadi orang”, Taeyeon menjitak kepalamu, ada nada menegur dalam ucapannya

“Biarin week”, kau menjulurkan lidah—mengejek. Kau menjatuhkan badanmu rebah di atas kasur, menatap langit-langit kamarmu yang bergambar langit beserta awannya.

“Kau tahu taenggo, kurasa orang yang mengatakan kalau ‘kita bahagia kalau melihat orang yang kita sukai bahagia’ tapi orang itu bersama orang lain—bukan dirimu sendiri, adalah pembohong besar. Juga munafik.”, ucapmu lirih

Lalu kau menutup kedua matamu dengan kedua punggung telapak tanganmu. Kau merasakan dadamu sesak—tapi sesaknya sama sekali berbeda dengan sesak yang kau rasakan saat Sungmin oppa-mu mencium wangi rambutmu.

“Ya ya, oke. Apa katamu sajalah. Eeeh tapi jangan nangis dong!”, seru Taeyeon panik

Kau merindukannya—kau akui itu. Kau merindukan semua yang ada pada pria itu. Senyumnya, Gelak tawanya, suaranya—pada intinya kau memang merindukan semuanya. Rasanya kau ingin kembali ke masa lalu, saat kau berumur 11 tahun atau 12 atau 13 atau 14. Yang terpenting kau kembali ke masa dimana pria itu masih menjadi milikmu seorang. Yang kau pedulikan hanya Sungmin yang perhatiannya masih untukmu.

The phrase I love you
The phrase from me that only you can listen to
The phrase I miss you
The phrase that says I wanted to hug you
The only one…

Yang kau inginkan–kalau kau memang tak bisa kembali ke masa lalu adalah, semoga Choi Sooyoung menghilang saja.

Memories

Sungmin berumur 21 tahun, dan kau 18 tahun. Jarak di antara kau dan dia semakin jauh, seolah kalian berdua tak pernah saling kenal.

Banyak pria yang berusaha mendekatimu. Tapi entah kau sadar atau tidak, kau selalu berusaha mengambil jarak setiap kau tahu bahwa pria yang mendekatimu bermaksud untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman. Karena—entahlah, sesuatu di dalam hatimu berteriak bahwa ada sesuatu yang tak benar.

Tahun ini, kembali diadakan acara kumpul besar keluarga Lee. Seperti tahun lalu, atau tahun sebelumnya, atau 8 tahun lalu (ketika kau pertama kali bertemu dengannya). Tahun ini pula kau berencana hanya datang dan langsung pulang saja. Sejak kau dan Sungmin tak begitu dekat lagi (atau bisa saja dibilang sejak kehadiran Choi Sooyoung di antara kalian berdua), kau seperti kembali ke masa kecilmu dulu. Kau yang mendengarkan musik lewat earphone dengan volume full dan tak lupa berharap semoga acara cepat selesai.

“Nona muda, lepaskanlah earphonemu itu. Kau kira ibumu tak melihat earphone itu? Perhatikanlah ke depan, sepertinya ada pengumuman penting”,tegur ibumu tegas. Dengan malas kau mencopot kedua earphone mu, dan dengan tak kalah malas pula kau melayangkan pandanganmu ke podium utama.

Dan kau pun tercekat.

Kau melihatnya di sana, menggandeng Choi Sooyoung—yang anehnya, terlihat sangat pucat–dengan lembut namun di saat bersamaan terlihat sangat protektif. Hatimu menjerit ngilu. Rasanya seperti ditimpa sesuatu yang berat sekali dan kau tak bisa menyingkirkan sesuatu itu pergi. Rasa cemburu, iri, kecewa—bercampur menjadi satu.

“Selamat malam, selamat malam semuanya. Di sini saya, Lee Sungmin ingin memperkenalkan kepada hadirin semua, Choi Sooyoung.”, Kau melihatnya mengeluarkan kotak kecil berwarna merah berbentuk mawar—berisi cincin emas putih dengan batu mutiara biru muda mungil (Kau tak bisa melihatnya—tentu saja. Kau hanya tau kalau kotak itu berisi cincin),”Yang mulai malam ini resmi menjadi tunangan saya”

Di saat riuh tepuk tangan membahana, seolah menyambut kabar itu. Kau hanya bisa diam. Tatapanmu kosong. Seluruh panca indramu mati. Kau masih bisa melihat, tapi kau tak benar-benar melihat. Kau masih bisa mendengar, tapi tak ada satupun yang terdengar olehmu. Kau berusaha ikut tersenyum seperti orang-orang lain tapi kau tidak bisa.

Kenapa sih mesti berakhir seperti ini? Kenapa Tuhan, Kenapa?

Kenapa Choi Sooyoung harus ada—kenapa dia kau ciptakan kalau pada akhirnya dia hanya membuatku seperti ini?

Kau begitu tenggelam dalam pikiran-pikiran jahatmu, sampai kau disadarkan riuh gaduh dari arah podium.

Choi Sooyoung—gadis yang sebenarnya tak pernah kau benci (kalau saja gadis itu tak pernah bersama Sungmin…)—pingsan. Dengan hidung mimisan. Dan itu semua cukup menjelaskan apa yang terjadi pada gadis itu. Wajahnya yang pucat. Kau pun ingat, bahwa gadis itu lebih kurus disbanding terakhir kali kau melihatnya.

Gadis itu sedang sakit. Parah.

Semua berlalu begitu cepat—kalimat yang klise, memang. Seperti saat kau membayangkan kau akan menjadi apa nanti, dan beberapa saat kemudian kau sudah menjadi apa yang kau inginkan dulu. Rasanya seperti—semua yang kau pikirkan dan kau bayangkan terjadi.

Choi Sooyoung terbaring koma di rumah sakit selama 6 bulan sebelum akhirnya keluarganya menyerah. Ah, tidak. Sebelum itu, yang kau tahu, gadis itu seperti tertahan di dunia ini karena sesuatu. Atau… seseorang. Kau heran, adakah orang lain yang penting bagi gadis itu selain Sungmin oppa?

Hingga kau tahu—karena kau memutuskan untuk menengok Choi Sooyoung yang sedang koma secara langsung—siapa yang ditunggu gadis itu.

Pria lain.

Pria tinggi berkulit putih, berambut ikal pendek dengan poni hampir menutupi matanya.

Pria itu sedang menggenggam tangan Choi Sooyoung dengan penuh sayang, menempelkannya ke pipinya dan mengelus-elus lembut telapak tangan gadis itu. Sambil menangis, pria itu seperti mengucapkan sesuatu. Kau tak bisa mendengarnya, karena kau hanya mengintip dari jendela kamar rumah sakit.

Kau mengedarkan pandanganmu ke seluruh ruangan, dan kau melihat Lee Sungmin. Berdiri terpaku sambil menunduk. Nyaris kau mengiranya patung. Karena Sungmin oppa sama sekali tak bergerak di tempatnya.

Suara beep panjang dan nyaring menggema dari dalam ruangan itu. Kau dengan panik mencari dari mana arah suara itu. Lalu kau mendapati mesin penunjuk detak jantung yang terhubung dengan Choi Sooyoung kini hanya menandakan garis lurus saja. Pria asing itu terlihat sangat panik dan putus asa. Ia berteriak-teriak, dan satu-satunya yang kau tangkap dari teriakannya adalah,”Aku mencintaimu, Aku mencintaimu. Sooyoungie, jangan, jangan pergi!”. Lalu rombongan suster dan seorang dokter berlari memasuki ruangan itu. Kau melihat Sungmin berjalan ke arahmu—ke arah pintu dengan langkah berat dan kaku, membuka pintu dan sepertinya ia sama sekali tak melihatmu. Ia berjalan begitu saja melewatimu. Seolah kau tidak ada di sana.

“Sungmin oppa! Sungmin oppa!”, kau berteriak memanggilnya, namun ia hanya makin berjalan menjauh darimu. Kau pun berlari mengejar sosoknya, dan menarik lengan bajunya kencang. Sungmin yang terkejut nyaris terjatuh menimpamu, tapi ia berhasil mengumpulkan keseimbangannya lagi,

“Sunkyu-ah? Sedang apa kau di sini? Lama sekali ya sejak terakhir kali kita bertemu”, Ia tersenyum padamu. Senyum paling palsu yang pernah kau lihat seumur hidupmu, “Ah ya, bagaimana kabarmu?”, Sungmin menatapmu. Namun kau tahu ia tak benar-benar menatapmu. Seperti ada kabut yang menyelubungi matanya. Kau panik, ini bukanlah Sungmin oppa-mu yang kau kenal. Bukanlah orang yang membuatmu ‘jatuh’ berkali-kali. Tidak, kau tak rela kehilangan Lee Sungmin yang kau kenal sebelumnya.

Kau menangis. Menangis yang benar-benar menangis. Seperti kau melepaskan sesuatu dari hatimu dan kemudian saking parahnya kau mengerang kesakitan. Seperti rasanya kau menangis tanpa sebab, menangis menggantikan seseorang.

Kau tak mampu berbicara. Lidahmu terasa begitu kelu. Namun, dia sama sekali tak bergeming, tatapannya masih kosong, apakah ia buta tak bisa melihatmu menangis di depannya?

Kau menarik Lee Sungmin ke dalam rengkuhanmu, memeluknya erat—seerat yang kau bisa. Seolah Lee Sungmin berubah menjadi balon helium yang mudah terbang ditiup angin. Kau membenamkan wajahmu di dadanya, menangis sepuasnya di sana.

“…ppa, Sungmin oppa-ku…”

Kau tak tahu apakah kau hanya membatin atau benar-benar mengucapkannya dengan lirih. Yang kau tahu, kemudian Ia membalas pelukanmu dan kau bisa merasakan wajahnya pada rambutmu. (Kau pun ingat kau masih menggunakan shampoo dengan aroma yang sama—bunga matahari walau sudah bertahun-tahun berlalu sejak pertama kali Ia mencium wangi rambutmu)

…Please come back to me- I call out your name every night
And in my exhausted waiting, I wander around and look for you

My love, my tears, our memories
Drop by drop, they are falling against my chest
Though I cry and I cry, the memories won’t erase
And again today, I drench my empty heart.

Walkin’

“Aha~Listen boy… my first love story, My Sungmin, and only Sungmin! My oppa~”

Kau melirik ke arahnya. Jelas sekali ia tertawa pelan sambil tersipu—namun masih berusaha fokus menonton resital kecil pertamamu di depan banyak orang.

Hari itu, hari yang begitu cerah. Sinar matahari dengan ramah menyapa kulitmu. Tidak terik sama sekali. Awan putih di langit terlihat sangat empuk—membuatmu ingin tidur di atasnya. Hari sempurna seperti hari-hari kemarin. Karena ada dia di sampingmu. Ya kan?

“…He’s so nice it makes my eyes dazzle
I can’t breathe because he makes me tremble
Gee gee gee gee baby baby baby
Gee gee gee gee baby baby baby

Oh, I’m so shy I can’t glance up at him
A shy girl falling in love.
Gee gee gee gee baby baby baby
Gee gee gee gee baby baby baby

What should I do?
My trembling body
I can’t even sleep because of my beating heart
I look like a fool watching him from afar.

He twinkles brightly, my eyes are dazzled
I’m suddenly shocked!
My trembling body starts tingling
Our eyes meet and I get sucked in by his sweet fragrance

Oh, He’s really pretty, his heart is really pretty
I’m entranced by his eyes
Gee gee gee gee baby baby baby
Gee gee gee gee baby baby baby

He’s so hot, I can’t touch him
My face is hot and this love is finished
Gee gee gee gee baby baby baby
Gee gee gee gee baby baby baby

Anyway, I like it
My shy self
Even though I’m not sure I still yearn for him every day
Even though all my friend’s said “Can’t you just stop?”
I’m still looking at him foolishly

He twinkles brightly, my eyes are dazzled
I’m suddenly shocked!
My trembling body starts tingling
Our eyes meet and I get sucked in by his sweet fragrance…”

Ingat sekali, saat kau melihat Jieun-eonni, artis solo favoritmu pertama kali mengkover lagu Gee. Yang mengingatkanmu untuk meminta Lee Sungmin mengajarkanmu bermain gitar. Dan kini, di umurmu yang 23 tahun kau mengkover lagu yang sama untuk kau persembahkan untuk pria itu–Lee Sungmin.

Tepuk tangan bagaikan suara rintik hujan yang terdengar merdu di telingamu. Orang-orang tersentuh mendengar permainan gitar akustikmu. Walau mereka semua tahu lagu itu dipersembahkan hanya untuk satu orang special saja—seperti yang sudah dilantunkan saat intro—mereka tetap bertepuk tangan dan mengeluarkan selembar-dua lembar uang dan melemparkannya ke topi yang berada tepat di depanmu duduk.

Kau tersenyum berterima kasih, menunduk member hormat ke semua penonton yang menyaksikan resital kecilmu dari awal hingga akhir, dan tak lupa mengembalikan gitar yang kau pakai ke pemiliknya yang sebenarnya—seorang pria berkacamata dan berkumis tebal.

Pria itu balik menyodorkan topinya yang penuh terisi lembaran-lembaran uang dollar padamu, kau menggeleng simpel, “Please keep ‘em all”, tolakmu halus. Pria itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih dalam bahasa inggris.

Lima tahun sudah berlalu sejak kepergian Choi Sooyoung. Semua tentu saja tidak langsung kembali seperti semula. Sungmin oppa-mu sempat tenggelam dalam kepedihan yang mendalam selama kurang lebih 1,5 tahun. Kau yang pantang menyerah sejak awal, tetap menemaninya di saat-saat terkelamnya itu. Dan setiap usaha keras pasti membuahkan hasil manis. 6 bulan kemudian Lee Sungmin bisa tersenyum kembali.

Kau masih merasa bersalah karena telah membenci (kau mengakuinya—pada akhirnya) Choi Sooyoung untuk beberapa saat (untuk lebih tepatnya, beberapa tahun). Kau berusaha menebusnya dengan rajin berkunjung ke makam gadis itu, membawakan karangan bunga yang baru, menyingkirkan bunga yang telah layu, membersihkan dedaunan kering yang berserakan di sekitar pusara. Memang sepele sih, tapi Kau berharap Choi Sooyoung di atas sana melihat ketulusanmu.

“Hei, Sunkyu-ah, Sunny sunny my sunny~”

Ia berbisik langsung di telingamu, mengembalikan kesadaranmu pada tempatnya. Suara lembut dan seksinya membuat pipimu merona,

“Setelah ini, enaknya kita pergi kemana ? Paris atau Roma ?”, tanyanya sambil sibuk membuka dan membolak-balik peta. Kamera Polaroid tergantung di lehernya, ia mengenakan t-shirt SUPER JUNIOR favoritnya dengan celana pendek selutut. Ia melihat jamnya dan kemudian melihat ke arahmu, mengisyaratkan kalau ia benar-benar meminta pendapatmu, “bagaimana kalau Paris saja ?Kita belum pernah ke tempat setinggi menara Eiffel kan ? dan kurasa di sana pemandangannya lebih romantis…”

Kau tersenyum geli melihatnya menyerocos, sebelum akhirnya kau menghentikannya dengan mengecup bibirnya cepat.

Benar saja, Lee Sungmin langsung membatu.

“Anywhere oppa, you can take me anywhereee~ selama kau tetap bersamaku”

…In my heart there was is a special person…

– T h e E n d-

a/n3 : jangan lupa komen ya maaci :3, oh ya tulisan yang center itu adalah translate dari lagu yang jadi sub-oneshotnya😉

Tagged: , , , , , ,

§ 7 Responses to From Mr.Simple to Walkin’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading From Mr.Simple to Walkin’ at |KPOP FANFIC INDO|.

meta

%d bloggers like this: