(6th Piece) Pieces of Two Hearts

October 31, 2010 § 72 Comments

Tittle: Pieces of Two Hearts

Author: fardinfah

Rating: PG-13

Pairings: Kyuyoung, hint of Seokyu, and a surprise pairing…😉

Genre: AU, angst, fluff!

Disclaimer: if they were mine, I wouldn’t write fanfic :P

Warning: Super generation pairings. haters to the left yo!

6th Piece: Wonderful Neverland

Kyuhyun mengerjapkan matanya. Ia tak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar. Gadis dengan baju terusan berwarna peach ini—gadis yang bahkan baru pertama kali ia lihat hari ini—menyatakan cinta padanya. Dipandanginya mata gadis itu terus-menerus, berusaha mencari titik kebohongan yang terdapat di dalamnya, tapi percuma. Yang ia lihat hanyalah kejujuran dan ketulusan dari kedua matanya.

Ia diam. Gadis itu diam. Tapi ia tahu gadis itu menunggunya berbicara.

“Sebelum nanti aku menanyakan banyak hal padamu, ada yang harus kutanyakan lebih awal—sebelum aku lupa menanyakannya. Siapa namamu ?”, akhirnya ia membuka suara. Mata gadis itu pun berbinar, ia tersenyum manis, matanya membentuk lengkungan seperti bulan sabit. Indah.

“Seo Joo Hyun. Namaku Seo Joo Hyun”, gadis itu membungkuk sedikit memperkenalkan dirinya, dan ketika matanya kembali menatap Kyu, tampak sekali kalau ia ingin menyampaikan hal ini sejak lama, “Kau bisa memanggilku Seohyun, Kyuhyun-sshi…”

Kyuhyun menaikkan salah satu alis matanya, sedikit terkejut ketika akhirnya namanya terucap dari bibir gadis itu.

“Seohyun, kau tahu kalau aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya, bukan ?”, ucap Kyu memastikan beberapa saat kemudian,

Seohyun tampak berpikir sejenak, “Ya. Kau tak pernah mengenalku sebelumnya. Kau tak mengenalku tapi aku telah mengenalmu jauh sebelum hari ini”, jawabnya halus dan santai, “Kau pasti bertanya tanya bukan ? Kyuhyun-sshi, aku akan menceritakan semuanya padamu sekarang juga—asal kau memberiku kesempatan”, tawar Seohyun dengan nada penuh harap,

Kyuhyun berpikir dalam waktu yang cukup lama. Lalu kemudian ia mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Dipencetnya nomor 1, speed dial yang telah lama ia tetapkan menjadi speed dial ke Sooyoung. Pada dering pertama, ia sudah mendengar suara gadis itu menjawab telepon,

“Yah! Kau dimana ? aku sudah siap sejak tadi—kau tahu itu ?”, sembur Sooyoung langsung tanpa basa basi, Kyuhyun terkekeh sebentar,–haruskah gadis ini memberikannya kejutan untuknya setiap saat ?

“hmmph… ehem”, Kyu berdehem sejenak, hingga ia siap melanjutkan apa yang ia ingin katakan,”Soo, kurasa, aku… –kita tak bisa pergi bersama ke taman Ria. Aku… ada perlu… sebentar. Aku akan menyusul ke sana. Aku janji. Kau tunggu aku di depan wahana Merry Go Round, oke ?”

Hening di seberang sana, Kyu merasa sangat bersalah sekarang.

“Soo, dengarkan aku—“

“Haaaah, jadi aku berangkat sendiri nih ? Oke. Jangan membuatku menunggu lama di sana, ya!”, Sooyoung memperingatkan, “Atau aku, tidak akan pernah lagi mau membuat janji denganmu hahahaha”, ancamnya bercanda,

Kyuhyun menghembuskan nafas lega, sejenak tadi ia berpikir kalau Sooyoung marah dan kecewa padanya. Tapi seperti apa yang ia duga, Sooyoung bisa mengerti, “Ya. Aku janji hahaha kau tenang saja, aku pasti akan muncul di hadapanmu,–ketika kita di depan Merry Go Round—secepat yang aku bisa. Kututup teleponnya, sampai bertemu di taman ria nanti, Sooyoungie…”

Kyu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya, Ia melirik ke arah Seohyun, “Kurasa aku bisa mendengarkan ceritamu sekarang”, ucapnya seraya beranjak menuju bangku kayu taman yang terdekat yang bisa ia temukan lalu duduk di bangku itu, “duduklah, kau pasti akan lelah kalau bercerita sambil berdiri”, perintah Kyu, ia melemparkan pandangan ramah dan terbukanya untuk pertama kali.

Seohyun tampak ragu, namun ia yakinkan dirinya untuk melangkahkan kaki menuju bangku yang sama dengan bangku yang Kyuhyun duduki. Bangku taman itu cukup panjang, setidaknya untuk dua orang. Inilah yang sebenarnya membuat Seohyun grogi. Ia hanya—hanya tidak pernah menyangka bahwa ia akan berada dalam posisi sedekat itu dengan Kyuhyun—pria yang selama ini hanya mampu ia kagumi dari jauh.

“Cepatlah duduk, dan ceritakan semua yang ingin kau ceritakan, setelah itu aku akan menjawab pernyataanmu”, Kyuhyun menepuk-nepuk bangku kayu tempatnya duduk

“Dan kemudian aku bisa pergi menemuinya”, batin Kyu

***

Sooyoung memandangi layar ponselnya, Kyu baru saja menghubunginya untuk memberitahunya bahwa mereka tak bisa pergi bersama. Kalau boleh jujur, Sooyoung kecewa. Entahlah, hatinya terasa sakit seperti tertimpa beban yang berat. Tapi segera dikuburnya dalam-dalam rasa kecewa tersebut, ia tahu, Sooyoung sadar ia bukanlah satu-satunya hal yang bisa Kyuhyun perhatikan. Mereka hanya bersahabat—tak peduli walau di mata orang-orang mereka terlihat lebih dari itu.

Sooyoung masih berharap ponselnya berdering, berharap Kyuhyun akan meneleponnya lagi dan mengatakan bahwa ternyata mereka bisa berangkat bersama… Tapi ponselnya tak kunjung berdering kembali. Ia tersenyum pahit.

Dipandanginya cermin yang ada di hadapannya. Di dalam cermin itu ada sesosok gadis dengan rambut terurai panjang bergelombang. Gadis itu mengenakan baju terusan—yang sebenarnya adalah tipe baju yang paling jarang ia keluarkan dari lemari pakaian—putih berenda. Dipandanginya sekali lagi sosok gadis dalam cermin itu dari atas sampai bawah, dari rambut bergelombang panjangnya, baju terusan renda putihnya, sampai sepatu flat putih. Sooyoung tersenyum, dengan senyum yang masih sama—senyum pahit itu. Dan di saat yang sama pula gadis dalam senyum itu menyunggingkan senyum yang sama.

Sooyoung tak terbiasa mengenakan baju berwarna putih—apalagi baju terusan berenda seperti yang ia kenakan saat ini. Tapi entah dorongan darimana—ia ingin sekali mengenakan baju itu hari ini. Begitu pula dengan apa yang ia lakukan pada rambutnya. Biasanya ia hanya menggerai rambut panjangnya seperti biasa—tapi kini berbeda, ia membuat rambutnya bergelombang—bukan lurus dan ia tak mengenakan topi seperti biasanya ia berjalan-jalan. Dan ya, sepatu flat putih yang ia pakai juga merupakan sesuatu yang jarang ia gunakan—ia menyukai sepatu kets. Semua hal yang ia lakukan hari ini, dari awal sampai sekarang, serasa bukan dirinya. Sooyoung tak mengerti mengapa. Ia tak tahu apakah alam bawah sadarnya yang melakukan hal ini padanya—atau apa. Ia tak mengerti sama sekali. Mungkin, mungkin saja—ini adalah perwujudan rasa cemasnya—atau aura perpisahan untuk lebih tepatnya.

Lagi-lagi senyum pahit itu yang tersungging dari sosok gadis dalam cermin itu. Sooyoung tak mau melihatnya lagi. begitu banyak senyum pahit hari ini. Di dekatinya cermin itu, kini jaraknya dengan gadis itu semakin dekat,

“Dengar, kau bisa melakukannya, Aku yakin kau bisa melakukannya. Ya. Aku tahu—jangan mengingatkanku kalau mengucapkan kata perpisahan itu berat. Dengar, kau tahu—kau akan bertahan melalui semua ini. Dan kau akan menemuinya lagi. Kau akan berada di sampingnya lagi. Seperti hari-hari sebelumnya—seperti hari hari dimana kau tidak cemas kalau kau akan pingsan di depannya dengan hidung mimisan, atau mati di depannya dengan memegang kepalamu yang sakit itu. Kumohon, dengarkan aku, sebenarnya ini sama sekali bukanlah perpisahan—karena perpisahan itu tak pernah ada, tak pernah bermakna—kalau pada akhirnya kau masih berharap untuk bisa menemuinya”, Sooyoung berbicara panjang lebar—dengan irama cepat dan nafas terengah-engah, sambil menunduk memejamkan mata. Di sentuhnya cermin itu. Ditengadahkan wajahnya… dan itulah. Gadis di dalam cermin itu menangis. Air mata itu meluncur ke kedua pipinya. Sooyoung berusaha menghapus air mata itu—tapi ia tidak bisa,”Menangislah, menangislah sekarang. Itu tidak apa-apa. Sama sekali tidak apa-apa. Asal kau bisa menukarnya dengan senyumanmu yang paling manis ketika berhadapan dengannya nanti. Asal kau tidak menangis lagi di hadapannya nanti. Ya ? Berjanjilah padaku kalau kau bisa melakukannya”, Sooyoung menatap gadis itu tajam, sooyoung mengangguk—dan gadis itupun mengangguk.

Sooyoung yang melihat gadis dalam cermin itu mengangguk—gadis yang sebenarnya adalah dirinya sendiri—tersenyum. Bukan senyum pahit tadi. Tapi senyum manis dan ikhlas.

Ya. Senyum manis dan ikhlas.

Disekanya air matanya sendiri, Sooyoung berbalik dan tidak menghadap cermin itu lagi. Ia kini mencari sesuatu… obat itu. Setidaknya ia harus meminum beberapa—untuk jaga-jaga saja. Ia tak ingin membawa obat itu bersama dengan dirinya. Ia tak ingin ketika ia akan kambuh—ia harus meminumnya di hadapan Kyuhyun.

Ditemukannya obat itu di dalam laci di samping tempat tidurnya. Sooyoung menuangkan beberapa tablet ke telapak tangannya—ia tak menghiraukan ada berapa banyak yang ada—ia langsung menelan obat-obat itu ke dalam mulutnya. Obat-obat yang hanya mampu menahan rasa sakit itu untuk beberapa saat. Yang sebenarnya—ia sendiri pun tahu—tak bisa menyembuhkannya.

Setelah ia yakin obat itu mulai bekerja di dalam tubuhnya. Sooyoung kembali bersiap. Ia mungkin akan meminta kakak perempuannya mengantarnya ke taman ria. Mustahil ia berangkat sendiri menggunakan bus umum, terlalu berisiko untuknya.

“Unnie, bisa mengantarku tidak ?”, tanya Sooyoung di ambang pintu kamar kakak perempuannya.

Pintu kamar kakaknya memang jarang sekali ditutup, ketika itu ia dapati kakaknya sedang bermain piano. “Wish upon a star”—itulah lagu yang sedang kakaknya mainkan. Sooyoung sedikit menyesal telah menginterupsi kakaknya bermain piano,

“Hmm ? kau memangnya ingin pergi kemana Soo ?”, tanya kakaknya, “Apakah… kondisimu baik ?”

“Kondisiku baik hari ini, jadi kuputuskan untuk berjalan-jalan ke taman ria. Kau tahu, mungkin saja aku akan merindukan taman ria itu. Aku ingin ke sana sebelum keberangkatanku menjalani pengobatan di tempat yang jauh”,jelasnya. Ia hanya berharap kakaknya mengerti.

“Baiklah aku akan mengantarmu. Kau sendiri di sana ? atau… bersama Kyuhyun ?”, goda kakaknya,

Wajah Sooyoung bersemu merah sebentar, dan godaan kakaknya itu hanya ia balas dengan anggukan pelan.

***

Wonderful Neverland.

Billboard itu terpampang dengan jelas di pintu gerbang taman ria. Sebuah taman ria dengan puluhan wahana menyenangkan. Taman ria yang begitu indah, dengan aliran sungai buatan, pohon-pohon rindang, bukit-bukit, jalan setapak, danau… taman ria dengan nuansa alam. Pusat taman ria ini berada di tengah tengahnya. Yaitu istana besar—istana seperti yang orang-orang bilang di dalam dongeng. Istana itu sebenarnya adalah gedung pusat kontrol semua wahana yang berkerja. Mulai dari rollercoaster, merry go round sampai ferris wheel.

Wonderful Neverland adalah taman ria milik perusahaan Lee Company. Orang di balik semua ini adalah Lee Sungmin. Eksekutif muda yang sukses dan… tampan. Di usia yang masih sangat muda, ia telah berhasil memajukan perusahaan keluarganya. Keputusannya untuk mendirikan taman ria di sebuah pinggiran kota kecil bukanlah keputusan yang salah. Karena kota ini, masih memiliki ruang cukup dan tidak padat, dengan udara tak berpolusi—sangat cocok dengan konsep Wonderful Neverland, taman ria mini yang sangat ramai.

Dulu, taman ria ini hanyalah taman ria biasa. Tapi ketika berada di tangannya, Ia berhasil mengubah taman ria ini menjadi luar biasa. Wonderful Neverland benar-benar merupakan proyek sukses Lee Company.

Taman ria ini memang sangat ramai dikunjungi, hampir setiap harinya pengunjung memenuhi wahana-wahana yang ada. Tapi demi kenyamanan, taman ria ini memiliki batas pengunjung. Jadi suasana di dalam taman ria tidak terlalu penuh sesak dan tetap nyaman untuk dinikmati.

Lee Sungmin, pria itu memiliki semua yang wanita impikan—ketampanan, kebaikan hati, sampai kebutuhan materi. Ia sukses. Dan sekarang merupakan kepala—pemegang kekuasaan utama Lee Company. Perusahaan sebenarnya yang tidak hanya bergerak di bidang taman ria saja, tapi juga di bidang lain, seperti industri film, makanan, pakaian, sampai transportasi. Semua itu… memang membanggakan untuk dirinya. Tapi, apa yang membanggakan itu bukan berarti memberikan kebahagiaan pada saat yang sama, bukan ?

Itulah yang Lee Sungmin rasakan selama ini. Hidupnya tidak bahagia. Hidupnya membosankan.

Sejak pagi-pagi buta, Sungmin sudah berada di ruang kerjanya. Tak semua orang tahu, bahwa kediamannya berada di tempat yang sama dengan pusat kontrol Wonderful Neverland. Ruang kerjanya dipenuhi layar-layar yang merupakan tampilan dari kamera-kamera tersembunyi yang berada di penjuru taman ria. Ini telah menjadi kebiasaannya akhir-akhir ini—ia suka melihat wajah orang-orang yang tersenyum ketika berada di taman ria miliknya.

Ia bisa memperhatikan layar-layar itu berjam-jam, sendirian, di ruang kerjanya.

Yang ia lihat semuanya wajah bahagia dan tersenyum—hingga matanya menangkap layar yang menunjukkan sebuah wajah sedih. Sungmin terkejut. Ia tak biasa melihat ekspresi seperti ini di dalam Wonderful Neverland. Hampir tak pernah malah. Diperbesarnya layar itu, hingga semua layar-layar itu kini penuh, terfokus pada tampilan dari kamera tersembunyi yang menangkap wajah sedih itu.

Sungmin menghempaskan tubuhnya ke senderan kursi empuk . Diamatinya wajah itu. Wajah seorang gadis. Cantik, namun wajah itu sedang tidak tersenyum. Sungmin—tiba-tiba ia penasaran bagaimana wajah gadis itu kalau ia tersenyum.

Indah—cantik.

Seperti itu… kah ?

Ia terdiam. Sungmin tahu ia tak pernah seperti ini. Ia tak pernah menginginkan melihat senyum seseorang—terlebih karena, biasanya orang-orang telah memberinya senyum lebih dulu, lalu ia akan tersenyum kembali pada orang itu.

Ini aneh. Bagaimana… bagaimana bisa kau tertarik pada seseorang yang sama sekali tidak kau kenal ? bagaimana bisa kelima panca indramu… ingin menemuinya—tertarik padanya ?

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membanjiri pikirannya. Namun ketika ia sadar… ia sedang mengikuti gadis itu. Sungmin keluar dari tempat persembunyiannya dari dunia—demi gadis itu. Ia berlari keluar dari ruangan dan secepat kilat berganti pakaian, lalu berlari dan berlari—hingga ia menemukan gadis berwajah sedih itu.

Gadis dengan rambut panjang bergelombang, gadis yang mengenakan baju terusan putih berenda, gadis yang memakai sepat flat putih.

Gadis yang berhasil membuatnya…untuk pertama kali—sungguh untuk pertama kali dalam hidupnya—bergerak tanpa ia sadari. Gadis yang berhasil menggerakkan hatinya.

Bersambung.

a/n : HALOOOOOOOOOOOOOO SEMUANYAAAAAAAA😀😀😀 aku kembaliiiiiiiiiii! maaf hiatus satu bulan, pra dan pasca UTS nih huhuuhu ;____; sama lagi brain storming juga -___- hmm, aku juga sedih, yang komentar dikit bangeeeet ;___; padahal viewers post Pieces of Two Hearts itu lumayan banyak, tapi gak sebanding sama yang komentar huhuhuhu. banyak silent reader nih ehem ehem :(( Komentar di wordpress kan gak perlu ada acc wordpress kok, gampang banget lagi komennya… please komen ;’) makasih semuanya yang udah baca dan komen :* aku bakal coba buat update lebih panjang dan cepat hehe ^^~v

Tagged: , , , , ,

§ 72 Responses to (6th Piece) Pieces of Two Hearts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading (6th Piece) Pieces of Two Hearts at |KPOP FANFIC INDO|.

meta

%d bloggers like this: