(5th Piece) Pieces of two Hearts

October 3, 2010 § 26 Comments

Tittle: Pieces of Two Hearts

Author: fardinfah

Rating: PG-13

Pairings: Kyuyoung, hint of Seokyu

Genre: AU, angst, fluff!

Disclaimer: if they were mine, I wouldn’t write fanfic :P

Warning: Super generation pairings. haters to the left yo!

5th Piece: Confession

Sooyoung menatap ke luar jendela. Bersama dengan bunyi hujan yang turun, ia menerawang, melihat tetes tetes hujan yang jatuh ke bumi. Dialihkan kembali perhatiannya pada kertas-kertas foto yang sedang ia cuci. Lagi-lagi, terlalu banyak foto Kyuhyun yang ia cetak.

Ia tersenyum. Diambilnya salah satu foto pria yang telah ia sukai sejak lama, menatap foto itu, lalu menciumnya. Ia cium foto Kyuhyun itu perlahan dan lembut, setelah itu, didekapnya foto itu.

“betapa aku ingin melakukannya, denganmu. Bukan hanya dengan fotomu”, ucapnya lirih, matanya terpejam, “Ayah memberitahuku, ia akan membawaku pergi jauh dari sini. Untuk menjalani pengobatan. Sungguh aku tak tahu untuk berapa lama, tapi cukup lama bagiku kalau itu jauh darimu. Tapi, bersabarlah. Kau dan Aku harus bersabar, aku akan sembuh dan pasti kembali lagi padamu. Segera setelah tumor di otakku ini dikeluarkan”

Ia menghela nafas. Akhirnya ia siap untuk mengatakan perpisahannya untuk sementara dengan Kyuhyun. Sooyoung telah berlatih mengucapkan dialog itu cukup lama, hanya saja ia tak tahu apakah akan sama lancarnya ia mengucapkan kalimat itu ketika berhadapan dengan Kyuhyun.

“Ugh. Aduh…”, tiba-tiba kepalanya terasa pening. Lalu rasa sakit itu menghampiri, menghujam kepalanya bertubi-tubi. Akhir-akhir ini ia memang sering merasakan rasa sakit di kepalanya. Ia tak tahu sudah seganas apa tumor yang berdiam di otaknya, “Kumohon, jangan… jangan hari ini… biarkan aku mengatakan sesuatu padanya di saat yang tepat. Jangan…”, ia mengoceh pada dirinya, pada penyakit itu. Dengan susah payah ia melangkahkan kakinya ke meja dekat pintu ruangan mini studio cetak foto miliknya, dibukanya laci kedua, dengan tergesa. Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Ia takut.

Akhirnya ia temukan obat penahan rasa sakitnya. Ia terlalu banyak mengeluarkan kapsul-kapsul itu. Tapi ia tak sanggup lagi berpikir, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana ia menghentikan rasa sakit itu. Dilahapnya kapsul-kapsul itu, jatuh terduduk di lantai, Sooyoung berusaha mengatur nafasnya. Ia berusaha mendengarkan detak jantungnya, merasa tak yakin, ia rasakan sendiri dengan memegang urat nadi pada pergelangan tangannya,

Setidaknya, rasa sakit itu hilang. Untuk sementara waktu… batinnya dalam hati.

Setelah yakin sakitnya sudah pergi, diliriknya jam dinding. Ia harus segera bersiap. Hari ini ia dan Kyuhyun akan pergi bersama. Dan sudah seharusnya hari ini, akan menjadi hari bahagia. Dan sudah seharusnya pula, hari ini menjadi hari ia mengucapkan dialog perpisahan yang telah ia latih berjuta-juta kali.

Ia berharap semoga tidak ada yang salah. Semoga Kyuhyun bisa mengerti. Semoga ia kembali.

‘Semoga-semoga’ lain pun menyeruak di dalam benaknya. Begitu banyak doa dan harapan. Tuhan tahu, Tuhan mendengar. Hanya saja, semua butuh waktu dan beberapa pengorbanan.

***

Flashback.

“Kau… apa ?”, Yuri menoleh dan menatap tepat ke mata adik kelasnya,–sekaligus teman satu les balletnya. Ia melihat ke dalam mata Seohyun, mencoba mencari sesuatu di dalamnya,

“Aku… Menyukai pria itu, unnie. Cho Kyuhyun. Ya, pria itu”, akunya malu-malu. Seohyun adalah gadis yang cantik, lembut, dan cerdas. Ia dan Seohyun telah berteman cukup dekat. Dengan itensitas bertemu mereka di sekolah dan di tempat latihan ballet, tak mungkin sebuah kedekatan dapat tak terjalin. Dan seperti saat ini, mereka mengobrol ringan seusai latihan ballet. Hanya saja ia sama sekali tidak menyangka, nama Cho Kyuhyun akan terlontar dari mulutnya sebagai sosok pria idaman,”Kau tahu tidak, Yuri-unnie, aku telah memperhatikannya sejak lama, sejak hari pertama aku masuk SMA. Dia orang yang menunjukkanku jalan ketika aku tersesat tak bisa menemukan dimana kelasku. Ia juga pintar, kan unnie ? Ah… dan juga ia sangat menarik. Aku tidak tahu darimana harus memulai kalau membicarakan soal dia. Hihi”, Seohyun berceloteh riang, matanya berbinar penuh sayang setiap kali nama Cho Kyuhyun ia sebut. Yuri terdiam. Terpaku untuk sementara waktu, ia tak tahu bagaimana ia sebaiknya menanggapi Seohyun.

“Yuri-unnie ? apa ada yang salah ?”, Seohyun menangkap sesuatu yang aneh dari air muka Yuri.

Yuri harus berbicara.

“Ah, tidak. Tak ada yang salah. Aku… hanya terkejut saja mendengar pengakuanmu ini Seohyunnie. Lalu, ada apa kau memberitahuku hal ini ?”, Yuri mendekat dan duduk di sampingnya, di bangku kayu di sudut ruangan latihan. Ruangan latihan mereka sudah sepi, hanya tinggal mereka berdua di dalam. Yuri-lah pemilik les ballet itu. Jadi ia cukup bebas untuk menggunakan ruangan itu, bahkan sampai hari cukup larut seperti hari itu

“Aku ingin menanyakan pendapatmu tentang sesuatu, ah mungkin bukan ‘sesuatu’, melainkan banyak hal. Boleh tidak ?”, tanyanya penuh harap. Yuri mengangguk mengiyakan. “Aku…… hmmm… aku… ingin mengutarakan perasaanku padanya, unnie. Bagaimana menurutmu ?”, ungkap Seohyun seraya menunduk malu.

Yuri terdiam sejenak. Tak perlu diingatkan bahwa Ia dan Sooyoung adalah sahabat dekat, jauh lebih dekat dan lebih lama bersahabat dibandingkan dengan persahabatan barunya dengan Seohyun. Tak perlu diingatkan pula—ia takkan pernah lupa, bahwa Sooyoung menyukai Cho Kyuhyun. Dan sepertinya Kyu juga menyukai sahabatnya itu. Apakah, apakah sebaiknya… ia memberitahu Seohyun soal ini ? atau, paling tidak, memberitahu Seohyun soal Sooyoung ?

Sebaiknya, ya. Ia harus memberitahu Seohyun.

“Seohyun, aku akan memberitahumu sesuatu, tapi perlu kau ingat, aku memberitahu hal ini bukan untuk melarangmu atau apa, tapi kupikir sebaiknya kau tahu.”, ditariknya nafas perlahan, “Aku mempunyai sahabat dekat, dan kami telah bersahabat cukup lama, namanya Choi Sooyoung. Dan kurasa, ia—sahabatku itu juga memiliki perasaan yang sama sepertimu kepada Kyuhyun.”, Yuri menunggu reaksi Seohyun

“Lalu ?”, tanyanya. Berharap Yuri melanjutkan ceritanya terlebih dulu,

“Engh… dan nampaknya Kyuhyun juga menyukai Sooyoung. Hanya, hanya saja… belum ada pengakuan di antara mereka berdua. Tapi, kalau kau melihat mereka bersama, pasti kau akan menyadarinya dengan segera. Kalau suatu saat nanti, kau melihat mereka bersama, pasti kau akan merasakan perasaan mereka berdua terhadap masing-masing”, jelas Yuri. Ia tak tahu apa yang ia lakukan pada tepatnya, menjaga hati Seohyun atau malah merusak harapan Seohyun.

Kini giliran Seohyun yang terdiam. Ia tahu Sooyoung. Mustahil tidak mengetahui gadis penuh pesona itu. Dimana ada Kyuhyun, gadis itu pasti juga terlihat bersama dengan Kyu. Di sekolah, Seohyun sering memperhatikan mereka bercengkrama. Seohyun bahkan tak memiliki kemampuan untuk menyanggah kemungkinan bahwa Sooyoung-Kyuhyun saling menyukai. Tapi, ia yakin perasaannya pada Kyuhyun patut untuk diperjuangkan.

“Yuri-unnie… kurasa aku akan tetap mengutarakan hatiku pada Kyuhyun-oppa. Aku akan mencoba, karena aku tidak akan pernah tahu kalau suatu saat nanti, ada perubahan. Dan, bukannya tidak mungkin kan, kalau seandainya nanti, Kyuhyun akan menyukaiku juga. Walau untuk sekarang… aku sendiri pun tahu kemana hati pria itu berada”, Seohyun menatap Yuri dan tersenyum padanya, senyum pantang menyerah. Yuri mendekap Seohyun,

“Seohyunnie… kau tahu kan, apa yang akan kau peroleh kalau kau… mengutarakannya sekarang ? Kyuhyun saja bahkan mungkin belum mengenal kau sama sekali kan ?”

Seohyun balas mendekap Yuri, “Orang-orang pasti berubah. Dan sebuah hati juga perasaan bukannya tidak mungkin akan berubah juga kan, unnie ? Kurasa, Aku benar-benar menyukai Kyuhyun-oppa dan jangan pernah menanyakan padaku mengapa dan apa yang kusukai darinya. Karena aku tidak tahu. Dan aku tak butuh untuk tau alasan itu. Unnie, suatu saat nanti… bukannya tidak mungkin kan, kalau unnie akan melihatku bersama dengan Kyu ? ”, Seo menghela nafas panjang, “Aku memiliki peluang untuk berada di sampingnya. Walau peluangku mungkin hanya 1 per semilyar, aku akan berusaha”, dilepasnya dekapan Yuri pelan-pelan,

“Kau tau Seo, aku menyayangimu sebagai adikku, dan aku hanya tidak ingin kau terluka nantinya. Kalau itu apa yang hatimu katakan padamu, maka…”Yuri tersenyum padanya,

Seohyun membalas senyuman itu.

End Flashback.

“…maka, berjuanglah semampumu, dan… semoga beruntung!” kalimat itu terngiang di kepala Seohyun. Ketika ia mengetik pesan yang akan ia kirim untuk Kyuhyun.

Ia telah mempersiapkan semuanya. Tak lupa juga, ia mempersiapkan hatinya…

Untuk: Cho Kyuhyun

Pesan: Aku tahu mungkin kau tak mengenal nomor ini, tapi bisakah kau percaya padaku ? Ada yang harus kukatakan padamu. Taman Kota jam 09.30, minggu besok. Aku akan menunggumu sampai kau datang. –SH-

***

Drrrt!

Kyuhyun menoleh ke arah suara getar itu. Ada pesan masuk di HP nya

Untuk: Cho Kyuhyun

Pesan: Aku tahu mungkin kau tak mengenal nomor ini, tapi bisakah kau percaya padaku ? Ada yang harus kukatakan padamu. Taman Kota jam 09.30, minggu besok. Aku akan menunggumu sampai kau datang. –SH-

Bahkan Kyuhyun pun tak mengenal siapa pemilik nomor itu. Ia melengos tak perduli dan menaruh HP nya kembali di dalam tas olah raganya. Diambilnya botol minumnya, ditenggaknya air di dalam botol tersebut.

Ia bersimbah keringat, kaus basketnya basah. Di sekanya keringat yang akan menetes, meluncur ke pipinya,

“Sudah puas ?”, Donghae menghampirinya, melemparkan bola basket tepat ke arah Kyuhyun. Dengan sigap Kyuhyun menangkap bola itu sebelum mendarat di mukanya,

“Tidak akan sebelum aku bisa mengalahkanmu, hyung.”, tantangnya.

Donghae memutar bola matanya, “Oh Ayolah, hari sudah mulai beranjak siang. Tidak kah kau mempunyai rencana lain di hari Minggu ini selain mengalahkanku ?”

Kyuhyun tentu saja tidak melupakan janjinya dengan Sooyoung. Ia hanya, hanya,… sungguh—ia hanya menjernihkan pikirannya saja dan berusaha mengalihkannya sebentar dari Sooyoung. Hah, semalaman ia tidak bisa tidur! Ia terlalu antusias menunggu hari ini, ia juga gugup menghadapinya. Karena hari ini sama sekali tidak seperti hari-hari lain dimana sebelumnya mereka terbiasa pergi bersama. Oh, dulu mereka sering pergi bersama ke taman ria. Dulu sekali, tapi itu tidak membuat Kyuhyun lupa apa wahana favorit Sooyoung.

Merry Go Round.

“Bagaimana kalau sekali lagi ? Aku akan mengalahkanmu hyung. Janji”, Kyuhyun tertawa dan menjulurkan lidahnya.

Pertandingan berlangsung sengit dan ketat. Susul-menyusul angka terus terjadi. Hingga akhirnya Kyuhyun membuat selisih angka cukup jauh dengan Donghae dan ia pun memenangkan game tersebut. Ia pun berjalan pulang, rumahnya tak begitu jauh dengan lapangan basket tempat ia dan Donghae bermain tadi. Diliriknya taman kota yang berada di sisi seberang jalan, ia pun teringat pesan itu. Kyuhyun berpikir sejenak, setelah ia pikir tak ada salahnya menemui seseorang itu, siapa tahu saja ada yang penting. Ia juga masih memiliki waktu sebelum jam 10.

Ia menyeberang jalan dan memasuki taman kota. Taman kota di wilayahnya tinggal memang sepi sekali kalau pada pagi hari minggu seperti ini. Orang-orang lebih memilih untuk pergi ke pusat kota dengan berjalan kaki kesana, hitung-hitung juga olah raga.

Di tengah taman itu terdapat kolam air mancur, bangku kayu taman berjejer di sekeliling area taman yang membulat. Terdapat area bermain dengan ayunan, seluncuran, jungkat-jungkit, bak pasir di salah satu sudut taman. Pohon-pohon besar menaungi taman, seolah menjadi atap teduh bagi taman itu. Tapi walau begitu, cahaya matahari masih dapat masuk dan menyinari area dalam taman.

Perhatian Kyuhyun terpusat pada sesosok gadis.

Hanya gadis itu yang ada di taman kota. Dilihatnya jam raksasa yang ada di taman. Ini sudah jam 09.30, apakah gadis ini yang ingin menemuiku ? tanya Kyuhyun tak yakin.

Gadis itu mengenakan baju terusan berwarna peach, dengan renda-renda di beberapa tempat di bajunya. Ia terlihat sedang menunggu seseorang. Kyuhyun mulai yakin bahwa gadis itulah orang yang menyuruhnya datang ke taman kota ini. Dihampirinya gadis itu,

“Permisi, apakah kau yang memintaku datang ke taman kota ini ?”, tanya Kyuhyun langsung tanpa basa-basi. Gadis itu menoleh padanya, menatapnya sejenak, tatapan yang seolah mengatakan—“Aku tak percaya kau akhirnya datang!”

Ia tersenyum manis sekali, “Ya, maaf kalau mengganggu hari Minggu mu, tapi memang ada yang harus kusampaikan…”

Kyuhyun menaikkan salah satu alis matanya, tertarik. “Apa ?”

“Aku… Aku, yang mungkin tak kau kenal ini—Aku, menyukaimu”, aku Seohyun tegas dan langsung, tak ada keraguan di nada suaranya, Pria ini, harus tahu. Batinnya

Bersambung.

a/n: HALOOOOOOO SEMUANYAAAAA😀 maaf bet telat update, baru dapet wangsit nih😄 kalau ada yang mau request biar update-nya lebih cepet, ingetin aku aja via twitter😉 makasih ya yang udah mau baca terus nunggu U.U me love ya! :** xoxo

Tagged: , , , , ,

§ 26 Responses to (5th Piece) Pieces of two Hearts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading (5th Piece) Pieces of two Hearts at |KPOP FANFIC INDO|.

meta

%d bloggers like this: