(4th Piece) Pieces of Two Hearts

September 9, 2010 § 20 Comments

Tittle: Pieces of Two Hearts

Author: fardinfah

Rating: PG-13

Pairings: Well, it seems it’s KYUYOUNG ;P

Genre: AU, angst, fluff!

Disclaimer: if they were mine, I wouldn’t write fanfic :P

Warning: Super generation pairings. haters to the left yo!

4th Piece:  Pain and Happiness

Sooyoung tahu, kecupan itu nantinya hanya membawa luka untuknya. Luka yang dibawa kenangan–yang seharusnya indah, kenangan yang harusnya dikenang, justru akan menjadi kenangan yang terlupakan. Dan tak bisa mengingatnya—kenangan indah itu, membawa derita kan ?

Flashback.

Gadis yang baru berumur 17 tahun itu, divonis memiliki tumor di otaknya. Vonis dokter yang didengarnya ketika ia berulang tahun yang ke-17. Ketika seharusnya ia berbahagia, ketika sewajarnya ia akan mengalami masa-masa remaja yang takkan pernah terulang… ia mendapat kutukan penyakit yang akan membawanya perlahan namun pasti, ke jurang kematian.

6 bulan lalu, kutukan itu terucap dari mulut dokter kepercayaan keluarga Choi. Hari itu, dia sedang merayakan ulang tahunnya. Dan saat ia ingin memberikan potongan kue ketiga—yang pertama untuk Ayahnya dan yang kedua untuk ibunya—dan itu berarti adalah potongan kue special setelah keluarganya. Potongan yang hendak ia berikan pada pria yang ia cintai sejak dulu, Cho Kyuhyun.

Tapi potongan kue itu tak bisa ia berikan. Potongan kue yang takkan pernah tersampaikan—karena saat ia melangkahkan kakinya ke arah Cho Kyuhyun, ia jatuh pingsan.

Semua berlalu begitu cepat. Dan pesta ulang tahun yang seharusnya menjadi pesta paling meriah di Kota itu berubah menjadi pesta dengan penuh kepanikan.

Tepat sebelum tubuh Sooyoung jatuh mengenai lantai, Kyuhyun berlari dan menangkap tubuhnya. Di gendongnya tubuh Sooyoung—bridal style—dan Sooyoung pun dibawa ke rumah sakit dengan segera. Ayah dan Ibu Sooyoung dipanggil dokter untuk diajak berbicara—setelah Sooyoung selesai diperiksa. Kyuhyun ingat, wajah kacau dan sarat tangis yang menghiasi wajah Ayah dan Ibu Sooyoung ketika mereka keluar dari ruangan dokter. Ada sesuatu yang tidak beres. Batin Kyu menjerit.

“Ada apa, om—tante ? apa yang terjadi pada Sooyoung ? ia baik-baik saja kan ?”

Hening. Yang ia dapati sebagai jawaban adalah keheningan. Ayah Sooyoung memeluk istrinya, yang kini menangis sesegukan. Kyuhyun mendapati dirinya frustasi sendiri, ia begitu mencemaskan Sooyoung. Gadis yang paling ia cintai, untuk pertama kali—gadis yang menjadi dunia nya.

“Tuhan, apapun yang terjadi padanya—seburuk atau seperti apapun itu, hanya Kau yang tahu. Kau yang mampu menyelamatkannya dengan kuasa-Mu. Bahkan aku yang mencintainya tak berdaya untuk menolongnya. Aku paling tidak siap kehilangan ia, Tuhan. Aku mohon, Aku memohon padamu—walau dengan seluruh jatah permohonan yang kau berikan padaku—Aku ingin agar kau mengabulkan yang kali ini—ia  selamat dari bahaya apapun yang menantinya. Tuhan, kabulkan lah doaku, Aku siap menukarnya dengan apapun sebagai balasannya—hanya, hanya tolong, selamatkan ia. Amin”, pria itu menutup doanya dengan tangis. Pria yang baru saja memohon dengan sungguh-sungguh, dengan cara yang paling benar di sepanjang hidupnya—Kyuhyun, menangis. Dengan isakan paling pedih—sendirian dalam gereja yang berada tepat di samping rumah sakit.

Saat ia kembali, gadis itu telah sadarkan diri. Kyuhyun tersenyum, di ambang pintu kamar rumah sakit. Gadis itu menyadari keberadaannya—menoleh ke arahnya dan membalas senyumnya, dengan senyum paling manis, yang bahkan sudah Kyu rindukan.

Kalau saja saat itu tidak ada orang tua Sooyoung, Kyu pasti akan langsung berlari ke arah tempat tidur dan memeluk Sooyoung.

“Hai, kemana saja kau ?”, tanya Sooyoung santai. Seolah tak pernah terjadi sesuatu yang gawat, “Sahabatmu terbaring di ranjang rumah sakit dan kau baru menjenguknya ? keterlaluan!”, rajuknya bercanda

Kyu tak mampu menyembunyikan senyuman lega di wajahnya. Ia berjalan menghampiri ranjang Sooyoung dan duduk di kursi tepat di samping ranjangnya, “Aku… pergi ke suatu tempat tadi”

“Kemana ?”

“Sayang, kami pulang sebentar untuk mengambil pakaian ganti mu, ya. “, pamit Ny.Choi seraya mengusap kepala putrinya lembut, ”Kyuhyun, tolong jaga Sooyoungie sampai kami kembali. Bisa kan ?”, Kyu mengangguk.

Dan setelah Kedua orang tuanya menutup pintu kamar, sooyoung kembali menanyakan padanya kemana Kyuhyun pergi, “Gereja”, sahutnya singkat. Berharap Sooyoung tidak membahasnya lebih lanjut—tapi ia salah,

“Ohya ? berdoa untukku ya ? perhatian sekali kau ini !”, ucap Sooyoung seraya menepuk pundak Kyu ringan,

“Ya. Aku berdoa untukmu, tahu. Kau kenapa sih ?”

Sooyoung sempat terpaku mendengar pertanyaan yang dilontarkan Kyu. Tapi dengan segera ia manjawab dan mencoba mencairkan suasana, “tidak parah. Cuma anemia kok ! tak usah kau khawatirkan. Aku baik-baik saja”, dicubitnya pipi Kyu, “Jangan pasang wajah panik dong, kau makin jelek tahu kalau seperti ini!”

“Serius kau anemia ? sejak kapan ? rasa-rasanya dulu kau tak pernah begini…”

“Sejak tadi. Ah sudah lah hari ini aku ulang tahun tapi malah di sini. Menyebalkan sekali. Dan sangat membosankan. Hibur aku! Ayo main! ”, serunya riang mengalihkan pembicaraan,

“Main apa ?”, jawab Kyu heran, permainan apa yang bisa kau mainkan bersama gadis yang sedang lemah karena anemia ?

“Suit! yang kalah harus mencium yang menang!”, seru Sooyoung asal

“GILA!”

End Flashback.

“mau mampir masuk tidak ?”, tawar Soo. Dibukanya pagar rumah, mereka kini telah sampai setelah perjalan pulang yang terasa panjang,

“Ah tidak usah, engh…..”, tolak Kyu. Tampaknya ia ingin mengatakan sesuatu…

“apa ?”, tanya Sooyoung penasaran. Tak biasanya Kyuhyun menjadi ragu untuk mengungkapkan sesuatu,

“Kau ada acara tidak, minggu besok ? Pergi jalan-jalan yuk ke taman ria”, Sooyoung menatap Kyu tak percaya. Kyu jadi salah tingkah sendiri,

“Kau. Cho. Kyuhyun. Mengajakku. Choi. Sooyoung. Pergi. Kencan ?!”, tanya Sooyoung dengan penekanan di setiap kata yang berlebihan,

“AH! BUKAN! BUKAN KENCAN! Ah sudahlah kalau kau tak mau ya sudah tidak usah”, Kyu berbalik dan melangkahkan kakinya ke gerbang rumahnya yang terletak tepat di sebelah Sooyoung. Ia malu. Malu sekali. Undangan itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa ia sadari.

Sooyoung menahan Kyu. Digenggamnya tangan Kyuhyun. Kyu menoleh ke arah gadis itu, “Apa sih ?”, entah kenapa ia jadi sewot sendiri,

“Aku kan nggak bilang kalau aku tidak mau”, ditatapnya Kyuhyun . Kyu membalikkan badannya lagi menghadap Sooyoung, “Jam berapa ?”

Muka tertekuk Kyuhyun mengendur, “Jam 10. Aku akan menjemputmu, kita ke sana menggunakan mobilku”, jawabnya, tak membalas tatapan Sooyoung dan berusaha untuk tidak menatapnya. Ia masih malu,

“oke. Minggu jam 10. Kalau kau terlambat, aku tak mau pergi!”, ancamnya,

“Ya.. ya. Dan ohya, Soo. Ini SAMA SEKALI bukan kencan. Oke.”, Kyuhyun memberikan penekanan khusus pada kata ‘Sama sekali’

Sooyoung memutar bola matanya, “Ya, ya. Apa katamu saja”

-bersambung!

Tagged: , , , ,

§ 20 Responses to (4th Piece) Pieces of Two Hearts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading (4th Piece) Pieces of Two Hearts at |KPOP FANFIC INDO|.

meta

%d bloggers like this: