This is What We Called a Perfect Life

August 13, 2010 § 33 Comments

Tittle: This is what we called Perfect Life

Author: Fardinfah

Pairing: Minho/Yuri

Rating: PG-15

Genre: Romance

Disclaimer: I REALLY REALLY WANT TO OWN THEM, so I could make them together~ but, unfortunately, I’m not and I won’t

Definisi seseorang untuk hidup yang sempurna sudah pasti berbeda. Dan untukku, hidup yang sempurna itu adalah ketika pagi hari—saat aku membuka mata, aku melihatmu. Dan sepanjang hari, kita menghabiskan waktu bersama—atau, paling tidak, mungkin ketika kau sedang bekerja, kita bisa menghabiskan waktu istirahat kantor siang bersama. Dan ketika malam, kita membuat makan malam bersama, tidur beralaskan kasur simple di balkon rumah, beratapkan langit berbintang.

Aku dan kamu, memilih rumah dipinggiran kota, balkon rumah kita menghadap pemandangan pantai. Kini, Kau bukan lagi artis. Aku pun juga bukan. Kita berdua kini orang biasa, hidup biasa, menjalani kehidupan biasa tanpa sorot mata—bahkan kamera yang terkadang membuat tak nyaman. Tak ada lagi jadwal ketat latihan, tak ada lagi perform di acara-acara musik. Tak ada lagi wajah kita berdua di layar kaca.

Aku—bukan berarti aku tidak merindukan semua itu.

Aku merindukannya—kadang. Tapi ketika aku mengingat bahwa, ini semua adalah keputusan yang kau dan aku ambil dengan kesadaran penuh—untuk keluar dari dunia hiburan—dan kemudian menjalani hidup berdua, bersama. Bersama, berdua. Tak bisa kupungkiri bahwa kenyataan ini membuatku tersenyum bahagia.

Aku merasakan ada sepasang tangan perlahan memeluk pinggangku. Wangi dirinya. Aku tak bisa menolong diriku sendiri untuk tersenyum.

“Sudah bangun, Mr.Choi ?”, sapaku, masih menghadap pemandangan pantai dan belum berbalik untuk melihatnya, Ku genggam tangannya yang memeluk pinggangku dari belakang, mengencangkan pelukan itu dengan genggaman tanganku, dan menyenderkan tubuhku sepenuhnya pada tubuhnya,

“hmm…”, digesek-gesekkannya wajahnya ke leherku, lalu ia berhenti sebentar dan menarik nafas dalam-dalam. Menghirup bau tubuhku mungkin ? entahlah…,”Kau tahu tidak, merasakanmu dalam pelukanku sekarang ini bahkan terasa tak nyata…”, gumamnya, masih menumpukan wajahnya di leherku,

“mengapa ?”, tanyaku sederhana,

Ia menggesek-gesekan wajahnya lagi pada leherku, membuatku merinding geli, “yah! Mr. Choi hentikan itu!”, seruku,”Geli, tahu”

“diamlah. Aku sedang mencoba membangunkan diriku sendiri. Mungkin saja ini mimpi”, gumamnya pelan,”rasanya, tadi malam aku bermimpi melihatmu berjalan menghampiriku yang menuggu di altar. Ayahmu mendampingimu, dan kemudian ia berpesan padaku untuk menjagamu dan kalau sampai aku membuatmu menderita, ia akan membuatku 100000 kali lipat lebih menderita lagi, tak peduli walau ia harus mengejarku hingga ke ujung dunia”, ia mendesah pelan, “oke bagian itu sedikit menakutkan untukku”

“hah, kau takut dikejar ayahku hingga ke ujung dunia ?”, tanyaku heran. Kami masih dalam posisi berdiri—berpelukan di balkon rumah kami menghadap pemandangan pantai. Balkon rumah kami

“Bukan sayang, bukan itu. Yang menakutkan bagiku adalah, kalau sampai aku menyakitimu. Aku takut membuatmu menderita dan tidak bahagia. Dan, kalaupun aku membuatmu… mengalami hal itu, dengan senang hati aku akan menyerahkan diri ke ayahmu untuk menghukumku dan membuatku 100000 kali lipat lebih menderita”, jelasnya, “Ah! Bahkan aku tak sanggup membayangkan, perbuatan bodoh apa yang bisa membuatmu menderita”

Aku termenung. Dan, tersenyum lagi. Astaga—pria ini telah membuatku tersenyum berulang kali bahkan ketika hari masih pagi, “Aku ingin mendengar kelanjutan mimpimu”

“Ehem”, ia berdehem—berusaha mengumpulkan suaranya kembali untuk melanjutkan ceritanya, “lalu ayahmu menyuruhku mengenggam tanganmu erat, dan kemudian kita berdua menghadap ke pastur dan aku mengucap janji di hadapan Tuhan untuk terus menjagamu, dalam susah maupun senang. Dalam sakit ataupun sehat. Mencintaimu selalu, selamanya—hingga tiba saatnya salah satu di antara kita kembali pada-Nya”

Caranya mengucap janji sumpah setia itu… membuatku ingin menangis terharu. Ia masih ingat dengan jelas setiap kata yang ia ucapkan di altar,

“kemudian, ketika pastur menanyakan dirimu. Aku tak berani menoleh dan genggamanku pada tanganmu mengendur. Aku sebenarnya membiarkan dirimu kabur—jika kau tak siap dan ternyata kau berubah pikiran padaku. Tapi dengan suara lembut dan pasti, kau berjanji , di depan Tuhan dan janjimu cukup lantang untuk didengar seluruh undangan yang hadir ketika itu”,ia mendesah lembut, nafasnya mengenai leherku, “Kau tak tahu betapa senangnya aku mendengar kata-kata yang keluar dari bibirmu. Itu mimpi paling indah yang pernah kualami dalam hidupku 24 tahun ini”,akunya.

Aku memejamkan mata, merasakan hembusan angin pagi yang begitu segar menerpa wajahku, rambutku berantakan dibuatnya, “masihkah kau berpikir saat itu dan… saat ini adalah mimpi ?”, tanyaku,

Pelukannya padaku mengerat, “hmmm… ya. Untuk jujurnya. Rasanya sangat,–sangat susah dipercaya kalau kau, dan aku sekarang hidup bersama. Menghabiskan waktu selalu bersama. Sulit namun begitu ingin kupercaya, bahwa kau sekarang hanya dan akan menjadi milikku seorang”

Aku menghela nafas, “Mengapa begitu sulit bagimu untuk percaya ?”

“Bagaimana tidak, kau sebelumnya begitu tak terjangkau bagiku. Mungkin kau tak pernah menganggapku pria dan hanya menganggapku adik laki-laki mu saja, kenyataan bahwa kau juga mencintaiku adalah kenyataan yang seperti fatamorgana.”, jelasnya.

Kulepaskan pelukannya di pinggangku, aku berbalik dan kini menghadap padanya. Astaga—wajah nya di pagi hari—wajah yang masih kusut itu, terlihat begitu mempesona. Untuk sejenak aku terpaku dan tak bisa berkata-kata. Rambutnya yang berantakan dan matanya yang masih sayu, ditambah suara berat—rendah dan dalam yang kudengar ketika ia berbicara, membuatku juga tak percaya pada kenyataan bahwa pria ini—pria bernama Choi Minho ini—kini akan menghabiskan banyak waktu bersamaku,

“mau kubuktikan bahwa semua itu bukan mimpi ? mau kubuktikan bahwa saat ini, adalah nyata bahwa kau bersamaku ?”, tantangku, menatap tepat ke matanya yang tajam,

Matanya melebar, seolah menjawab tantanganku. Dan aku, tak butuh persetujuan lisannya untuk melakukan hal ini.

Aku berjinjit, masih ingat bahwa Minho lebih tinggi sedikit dariku.

Aku mencium bibirnya.

Setelah beberapa saat, kulepas ciumanku. Dan menatap wajahnya. Ia yang kini terkejut dan tak percaya apa yang telah kulakukan—terlihat dari matanya. Aku tersenyum, berjinjit lebih tinggi sedikit untuk mencium kelopak matanya bergantian yang kiri dan kanan.

Ia tersenyum.

Kutatap ia lagi. Kemudian berjinjit untuk menggesek-gesekan hidungku dengan hidungnya. Kupeluk lehernya untuk menopangku,”masihkah kau berpikir ini mimpi, Minho-ah ?”

Ia menatapku, tersenyum lebar. Lebar, lebar sekali—sungguh manis. Dimiringkannya wajahnya, dan disentuhkannya bibirnya ke bibirku. Untuk beberapa saat yang terasa kekal itu—kami berciuman. Dan kalau saja kami lupa bahwa kami masih manusia dan membutuhkan oksigen, kami pasti tidak akan pernah menghentikan saat ini,

“Aku… sudah bangun, Mrs. Choi. Terima kasih telah dibangunkan. Bangunkan aku seperti itu setiap pagi, ya”, guraunya,”Kau milikku sekarang”

“Sekarang dan sampai kapanpun, Mr.Choi”, tambahku, “dan… ohya. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai adik kecilku. Sejak pertama kali Soo Man ahjussi memperkenalkan SHINee pada SNSD, aku telah melihatmu sebagai seorang pria. Dan aku, Yuri—telah menginginkanmu sejak lama”, ucapku jujur. Ia terpana mendengar pengakuanku,

“Yuri-ah~ aku mencintaimu, dan aku… itu sangat berarti bagiku”

“eh-hem, yah! Aku tahu, Minho”

“Yuri-ah~ ini hari pertama kita tinggal bersama dan dalam rumah yang sama”

“hmm ya. Hey, kau ini kenapa sekarang hah ?”, tanyaku bercanda,

“Yuri-ah~ kau ingin punya anak berapa ?”, tanyanya polos.

Kulepaskan pelukanku pada lehernya. Mendorong bahunya kuat—bercanda, “kau!!”, teriakku kesal dan malu, kupukul-pukul dadanya ringan.

Pagi ini, kami lalui dengan sedikit pertengkaran kecil. Setelah itu aku menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Inilah mungkin, hidup sempurna.

Hidup sempurna versiku, Yuri. Hidup dimana ada Mr. dan Mrs. Choi di dalamnya. Dimana ada Minho, dan Aku.

Tamat

Tagged: , , , ,

§ 33 Responses to This is What We Called a Perfect Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading This is What We Called a Perfect Life at |KPOP FANFIC INDO|.

meta

%d bloggers like this: