I Would Love Mornings More! (just when if he were there and I saw him)

August 10, 2010 § 8 Comments

Tittle : I Would Love Mornings More! (just when if he were there and I saw him)

Author : fardinfah

Rating : PG

Genre : romance

Pairing : Onew/Key

Warning : I wrote this in Bahasa, if you want to read it in English, just go to Google Translate… LOL too lazy to write in English since my English is bad (sorry >,<). And its YAOI (boyXboy love) don’t like ? don’t read !

Credit : Shinee prompt generator ! XDD it gave me this pairing and idea !

Disclaimer : Of course I didn’t own Onew, neither Key. I Own Taemin for myself. Their band belong to SME and they belong to themself

Summary : Onew is an university student who love his campus and morning and hates to go to campus by bus

Note : This is the sequel of “I Love Mornings! ”, and this is for my beloved chingu, Putri damayanti, and my lovely unnie J and of course y’all who have read my previous fanfic. Thanks for reading !

ONEW POV

Aku suka pagi dan kampusku, tapi sumpah demi apapun aku benci pergi ke kampus dengan bus sekolah. Entahlah. Mungkin karena begitu banyak orang dan sempit. Dan, oh ya! Aku juga tak suka menunggu di halte… entahlah. Aku hanya kurang suka menunggu

Hanya saja, hari ini sialnya aku harus pergi ke kampus dengan bus. Mobilku sedang diperbaiki di bengkel. Kalau saja Jonghyun lebih berhati-hati ketika mengendarainya sewaktu ia meminjam mobil itu dariku, pasti mobil itu tak perlu berada di bengkel dan aku tak perlu menunggu bus di halte sekarang ini. Sial!

Banyak sekali pelajar yang sedang menunggu bus sekolah itu di halte ini. Oke cemas juga deh dapet tempat duduk nggak ya ? ahelah males sumpah pagi-pagi udah keram kaki berdiri di bus kalau seandainya aku memang tidak dapat duduk. Aku menggelengkan kepalaku, membuang pikiran itu. Hanya bikin penuh kepala. Kubuka modul kuliahku, hari ini akan diadakan tes. Ada baiknya aku kembali mengulang belajar, walau tadi subuh sudah bela-belain bangun, begadang belajar.

Baru juga 10 menit membaca, bus itu datang. Eh… tunggu! Apa-apaan ini ? apakah bus itu baru saja melewatkan halte ?! aku menghela nafas. Capek. Melihat orang-orang mengejar bus itu mau tak mau aku juga ikut berlari. Dan bus itu akhirnya berhenti dan mundur. Satu per satu orang-orang yang menunggu di halte yang sama denganku masuk, begitu pun aku. Melihat keadaan, mencari kursi kosong… well, sial. Benar kan, tidak ada yang kosong! Kesal. Kucoba mengalihkan pikiran. Kembali melihat keseliling, dan… mataku pun terpaku pada sepasang mata itu.

Sepasang mata itu, ya. Sedang memperhatikanku tadi. Terlihat, terbukti, ketika aku menatapnya lama, menatapnya lurus, dan entah—aku tidak tahu mengapa, bibir ini membentuk seulas senyum. Ia membeku untuk beberapa saat. Bisa kulihat itu.

Pria—ah, sebutan itu jelas sekali tak pantas untuknya. Ia terlihat muda,–mungkin masih di sekolah menengah atas ? ya, seusia itulah. Hal yang menarik darinya, yang menarik rasa ingin tahuku padanya adalah caranya menatap sesuatu. Begitu mendalam dan terkesan sangat memperhatikan—begitu terfokus. Oke bukan hanya itu saja. Banyak hal yang membuat rasa tertarikku menyembur keluar. Aku menyukai rambutnya, potongan yang sebenarnya cukup aneh dan jarang  ditemukan. Potongan asimetris—yang Astaga, bila kau melihatnya kau yakin kau harus bisa menahan nafsumu untuk mengaca-acak rambut itu—sama seperti yang kurasakan sekarang—dengan warna cokelat tua, sangat tua—hingga mungkin akan kau kira itu hitam. Dan potongan rambut luar biasa itu sukses menutupi sebelah matanya—sial entah kenapa seorang remaja yang baru bertumbuh dengan potongan rambut seperti itu saja bisa terlihat begitu seksi di mataku ?shit.  Juga—ah, masih ada lagi ? Ya ampun. Yeah, kuakui, entah mengapa aku begitu tertarik dengan bibirnya—hingga mataku tak bisa melewatkan untuk memandang yang satu itu—bibirnya  yang berwarna merah jambu pucat, bibir penuh itu… Oh Tuhan, tolong… MELIHAT BIBIR ITU HANYA MEMBUATKU INGIN MERASAKAN BAGAIMANA RASANYA!

Yah! Lee Jinki. Alihkan saja pandanganmu sebelum kau lepas kendali dan menculiknya untuk kau simpan di rumah. Pikirku. Oke benar. Sebelum aku tanpa sadar membawanya pulang. Alihkan pandangan… alihkan!

Berhasil. Dan sisa perjalanan itu tampak seperti cobaan kesabaran menahan nafsu saja. Menahan nafsu untuk melihatnya. Tapi modul kuliah itu nampaknya cukup  membantu mengalihkan perhatian. Jadi cukup untuk menutupi keadaanku yang sebenarnya—yang begitu ingin menatapnya lagi. Lagi dan lagi.

Bus berhenti.

Dia turun.

Tidak.

Aku membatu.

Duniaku kiamat.

Oke oke, itu berlebihan. Banget. Tapi—serius, dia turun. Kecewa. Karena kali ini aku memang tak perlu menahan apapun lagi—menahan hasrat apapun lagi—tapi, tapi. Rasanya menahan masih jauh lebih baik daripada mengetahui bahwa ia tak bisa kulihat lagi. Menderita masih jauh lebih baik daripada ia tak ada. Ya. Untuk kondisi seperti ini.

Aku menoleh. Tak tahu mengapa, semua terasa begitu cepat namun perlahan melambat. Begitu cepat ketika aku menemukan kembali sepasang mata tajam itu, wajah itu. Menatapnya. Dan seketika itu pula seolah waktu perlahan melambat—seolah waktu memberikanku sedikit toleransinya untuk mengabadikan saat ini. Memotret wajah itu dengan hatiku. Mengingat bagaimana mata dan wajah itu juga melihatku, membayangkan apa yang ia pikirkan saat melihatku—yang dalam kasus ini adalah orang asing untuknya—orang aneh kah ? pervert kah ? tidak. Tapi tidak bukan—bukan ya, bukan itu yang nampaknya ia pikirkan. Matanya dapat kubaca. Mata itu… seolah juga menginginkanku.

Dan. Pintu bus sekolah tertutup.

Aku telah menghabiskan toleransi yang waktu beri.

Bus kembali melaju.

Namun hatiku—tunggu. Kemana hatiku ? serasa ada lubang, bukan. Bukan tiba tiba aku menjelma menjadi sundel bolong atau semacamnya, hatiku—ada bagian yang hilang di sana. Oke untuk lebih jelasnya—nampaknya aku terlalu banyak bertele-tele—hatiku tertinggal, terbawa bersamanya.

Bersamanya

Yang… ADUH BAHKAN AKU TAU TAHU SIAPA NAMANYA ?!!

Bagaimana… bagaimana cara mengambilnya kembali ? Oh Tuhan.

Aku menepuk jidat. Menghela nafas keras keras, inilah soal tersulit yang pernah kutemui. Capek, dan akhirnya aku melihat ke sekeliling, dan seketika itu pula aku baru sadar, bahwa aku menjadi pusat perhatian. Apakah semua orang sadar ? ya. Kurasa semua orang menyadarinya. Aku terlalu

bertingkah berlebihan.

Ini hari kedua.

Hari kedua aku naik bus.

Seriusan nih. Sumpah seolah sudah gak ada lagi jalan lain, semoga saja dengan naik bus hari ini aku memang bisa bertemu dengannya. Lagi.

Kemarin, setelah tiba di kampus, pikiranku kosong, hingga tes pun seolah sama sekali tak meninggalkan bekas apapun di benakku. Apa jangan-jangan aku sama sekali gak ngerjain ya ? beneran deh. Kacau semua hari itu—berantakan setelah aku bertemu remaja—baru—tumbuh—seksi(?)—minta—ampun.

Bus !

Yeah datang juga akhirnya. Tidak seperti kemarin, bus berhenti tepat di depan halte dan… ketika aku masuk, bus begitu lenggang. Banyak kursi kosong. Aku bebas memilih dimana pun aku duduk. Harusnya. Seharusnya memang seperti itu. Tapi, mataku tetap saja mencari sosok itu. Sosok yang sama. Sosok remaja—baru—tumbuh—seksi—minta—ampun, yang tak bisa lepas sepersekian koma detik pun dari kepalaku.

Dan.

Akhirnya, rambut asimetris itu, rambut yang berwarna cokelat tua itu… terlihat. Wajahku—ah ya. Bisa kurasakan wajahku berubah. Tanpa perlu berkaca lagi, aku tahu, kalau wajahku sedang tersenyum—dengan kontraksi berlebihan di sekitar mataku yang memang sudah sipit sejak lahir, pasti mataku membentuk seberkas garis saja—juga. Juga bagian mulutku—oh ya ampun. Tersenyum lebar. Ya, tersenyum begitu lebar sampai memperlihatkan semua gigiku—hanya.karena.melihat.rambutnya.saja. Tobat.

Aku meraih bangku tempat ia duduk—tempat dimana rambut itu menyumbul terlihat—melawan gaya kelembaman bus sekolah yang sudah mulai berjalan kembali.

“Ah” suara itu keluar begitu saja dari mulutku. Lega akhirnya bisa duduk di kursi itu.

Ia menoleh.

Jantungku melongkapkan banyak detakan.

Tak kusangka. Dengan jarak sedekat ini, ia masih bisa terlihat begitu sempurna. Semua terlihat begitu jelas—ya, mata, rambut, bibir dan bahkan kini bentuk hidung dan alisnya!

Ia terkejut. Aku ? aku tidak terlalu. Karena aku kan yang lebih dulu melihatnya ?

“Hai” aku manyapanya, memberikan senyuman terbaikku, “Lee Jinki”, hell. Badanku—semua bergerak sendiri—bahkan mulutku ! tak bisa dihentikan,”siapa namamu ?”, kuulurkan tanganku—yang bergerak sendiri—berharap ia akan menyambutnya

“Ah.. hai.. aku ? ah Kim Ki Bum”, tangannya menjabat tanganku. Tubuhku langsung bereaksi. Inilah kontak langsung pertamaku dengannya, “panggil Key saja. Aku terbiasa dipanggil begitu”, kini ia mulai berani tersenyum padaku—tak tertahankan Tuhan batapa sempurnanya ia dengan muka tersenyum seperti itu…

Aku membalas senyumnya, dan. Setelah itu… aku tak tahu apa yang kulakukan

“Key…”

“Ya ?”

“Bisa tidak kau kembalikan hatiku ? Bukan apa, aku rasa ia terbawa bersamamu”

“Hah ?” ia melongo, jangan dibayangkan tolong. Kalian bisa pingsan mengetahui fakta bahwa bahkan saat dia terperangah pun ia tetap mempesona. Setidaknya di mataku.

Nampaknya mulai sekarang aku akan lebih menyukai pagi. Dan bus(?)

Ya, aku akan lebih menyukai pagi (hanya saat ada dia dan aku melihatnya)

===============================================================

sequel fanfic I LOVE MORNINGS !

Tagged: , , ,

§ 8 Responses to I Would Love Mornings More! (just when if he were there and I saw him)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading I Would Love Mornings More! (just when if he were there and I saw him) at |KPOP FANFIC INDO|.

meta

%d bloggers like this: